Dulu, ayah saya tegas dalam aturan, ujar Kaur Perencanaan Desa Ngadirejo membuka obrolan pagi ini.
Ketika pulang dari manapun, sebelum masuk rumah diharuskan cuci tangan, cuci kaki. Pernah karena kelupaan langsung makan ya oleh ayah saya langsung ditendang. Lanjut pak kaur.
Hanya saja ketika itu ayah saya dan seperti kebanyakan orang pada masanya, tidak bisa menjelaskan alasan yang bisa diterima, jawaban paling mudah ya “Tidak Baik”.
Dari obrolan singkat dengan kaur perencanaan pagi itu, menimbulkan sebuah pertanyaan, mengapa pesan tentang pola hidup bersih sepertinya tidak disambungkan ke generasi selanjutnya?
Apa karena desain rumah sekarang yang sumurnya kebanyakan ada dibelakang rumah?
Ataukan karena generasi sebelumnya gagal menjelaskan fungsi dari mencuci tangan dan kaki sebelum masuk rumah?
Apapun alasanya, gerakan mencuci tangan dengan sabun yang kembali budayakan sebagai bentuk dari usaha untuk mecegah penyebaran virus, tidak hanya Covid 19.
Sebagai bentuk dukungan dari gerakan mencuci tangan, membuat tempat cuci bisa menggunakan dari bahan yang mudah ditemukan disekitar anda atau setidaknya di toko material bangunan terdekat.
Pada gambar diatas, tempat cuci tangan dibuat dari wadah bekas cat 25 kg yang dijual dengan harga 25.000 sebuah kran kecil seharga 25.000 juga. Serta kursi bekas sebagai tempat dudukan.
Sederhana tapi berfungsi dengan baik.
Kesadaran tentang hidup sehat diperlukan untuk meminimalisir penyebaran virus, dan kesadaran tersebut haruslah secara kolektif.