Bisa jadi dahulu ketika berita tentang kedatangan penjajah juga diabaikan oleh sebagian besar penduduk desa, berita yang beredar diobrolan warung kopi.
Banyak yang menanggapi dingin berita kekejaman para penjajah, kita hanya petani kecil rakyat jelata apa mungkin akan diciderai? Begitu respon mereka.
Termasuk ketika ada himbauan untuk mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu Negara membutuhkan tenaga untuk berjuang digaris depan. Tidak sedikit yang berdalih atau mencari alasan dan pembenaran untuk mangkir.
Tapi ketika penjajah benar-benar menyeruak ke kehidupan mereka, banyak yang tidak siap dan korbanpun berjatuhan. Mereka kaget dengan sangat.
Dan masa kini, tahun 2020 penjajah itu berwujud makhluk tidak kasat mata COVID-19.
Virus itu kan ada diluar negeri,
Kita kan kebal,
Kita kan sudah terbiasa dengan banyak virus,
Dan banyak lagi alasan yang menimbulkan kesan menyepelekan.
Bahkan ketika korban covid 19 sudah ada, himbauan pemerintah untuk mencegah penyebaran virus tersebut masih ditawar. Alasan ekonomi dan ketidak pedulian menjadi hal yang favorit.
Tapi setiap krisis akan selalu muncul hal yang positif, seperti hari ini 26 maret 2020, pemuda bersama pemerintahan desa Ngadirejo bergerak bersama melakukan sterilisasi lingkungan.
Dengan bahan yang bisa didapat dipasaran, karena disinfektan mulai langka dan alat penyemprotnya menggunakan tangki sprayer yang biasa digunakan petani. Kegiatan strerilisasi lingkunganpun dijalankan.
Selanjutnya diharapkan gerakan ini, bisa memicu kesadaran bersama bahwa musuh kita sama. Dibutuhkan gerakan bersama untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.
Dan semoga musibah ini segera berlalu, meninggalkan sebuah semangat baru, semangat kebersamaan.