Dispertan Nganjuk Imbau Peternak Waspada Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)


 2025-01-15 |  Desa Malangsari

Nganjuk, PING- Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Nganjuk, mengeluarkan imbauan kepada para peternak sapi untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang berpotensi menyerang hewan ternak. Penyakit ini dapat menyerang hewan ternak, seperti sapi, kambing, domba, kuda dan rusa.

Hal ini seperti yang disampaikan oleh drh. Neneng Susanti saat menjadi narasumber pada acara Dialog Interaktif Radio Suara Anjuk Ladang (RSAL) 105,3 FM, Senin (13/1/2025) malam.

“PMK adalah penyakit yang sangat menular pada hewan berkuku belah seperti sapi, kambing, domba, kuda, maupun rusa. Penyakit ini disebabkan oleh virus, yang menyerang pada daerah mulut dan kaki hewan, yang menyebabkan luka,” kata Neneng.

Penularannya, lanjut Neneng, dapat menyebar melalui kontak langsung antar hewan, udara, atau kontaminasi dari peralatan, pakaian, dan kendaraan yang tercemar. Termasuk, dari kontak langsung peternak dengan hewan PMK.

“Gejalanya seperti sariawan yang ada pada manusia. Pada hewan PMK, juga ada semacam luka-luka kecil dan benjolan-benjolan, sebelum meletus, yang menyebabkan mulut, lidah, gusi sampai ke hidung luka,” jelasnya.

Dari awal atau gejala inilah, menyebabkan menurunnya nafsu makan ternak, yang mengakibatkan sapi mengeluarkan lendir berlebihan atau air liur berlebihan sehingga nafsu makan menurun, sapi jatuh sakit dan bahkan meninggal.

“Kalau air liurnya menetes ke kaki atau diinjak-injak menyebabkan virus yang ada di air liur merembet ke kuku, yang dapat menyebabkan kaki (sapi) luka bahkan pincang,” bebernya.

Untuk itu, Neneng mengimbimbau para peternak untuk dapat memperhatiakan betul kondisi sapi atau hewan ternak. Dengan cara preventif, peternak harus menjaga betul kebersihan lingkungan atau kandang sapi. “Bersihkan secara rutin dan berkala. Hewan ternak dan juga kandang yang sehat,” tambahnya, sembari menyebut gejala awal tadi akan nampak PMK dalam kurun waktu 3-4 hari.

Apabila ditemukan gejala awal PMK, ujar Neneng, peternak agar segera menghubungi dokter hewan atau mantri hewan untuk diobati (vaksinasi). “Setelahnya peternak juga harus sabar dan telaten untuk memberikan makan hewan yang sakit dengan cara menyuapinya, kalau hewan dalam kondisi susah makan,” pungkasnya.

“Berbeda dengan hewan yang belum kena vaksin, hewan yang sudah pernah di vaksin akan lebih kuat dan dengan gejala ringan,” tandasnya.

Untuk diketahui menurut Neneng, wabah PMK mulai muncul kembali sejak Oktober 2024, dengan 25 ekor sapi terjangkit. Pada November, jumlahnya menurun menjadi tiga kasus. Namun, di Desember 2024, kasus kembali melonjak hingga 26 kasus. Lonjakan paling signifikan terjadi pada awal Januari 2025, di minggu ke dua dengan 300 kasus tercatat.